Cerpen gue~
Berbeda dengan konsep cerita yang gue tulis sebelumnya, inilah wajah cerpen gue sebenernya. Have a nice read!
Semburat Senja
di Pagi yang Cerah
Nathan membanting ponselnya ke atas matras di ruang
rehabilitasi Rumah Sakit Bolton, tempatnya menghabiskan waktu. Sudah
berkali-kali ia mencoba menelepon ibunya, namun terus diabaikan. Bocah 12 tahun
itu menderita penyakit hemofilia, penyakit darah sukar membeku. Baru-baru ini
dia mengalami kecelakaan kecil dan dia harus dirawat intensif untuk
mengembalikan kondisinya. Nathan merasa bosan setengah mati.
Masih dengan seragam rumah sakitnya, Nathan berjalan keluar
ke titik favoritnya di pantai sebelah rumah sakit. Dari sana dia bisa memandang
cakrawala dan bertemu sahabatnya, seorang gadis sebaya, yang selalu datang setiap
akhir minggu.
Belum lima menit Nathan berada disana, gadis yang dia
tunggu-tunggu datang. Dia berjalan menyusuri garis pantai dengan perlahan,
dengan rok pendek merah muda polkadot mengembang. Wajahnya yang berparas cantik
selalu terlihat aneh, bola matanya seakan diselimuti krim. Rambut hitamnya
berkilau dibawah terik matahari, dan angin mengibarkannya menatap laut.
Begitu Nathan melihatnya, dia berseru. “Liz!”
Liz menoleh pada sumber suara dan menunjuk dirinya sendiri.
“Aku?”
“Ya!”
Liz menghampiri Nathan dan duduk di sebelahnya. Matanya yang
buta mencoba memandang Nathan dengan normal.
“Liz, nggak terasa ya kita udah 3 tahun sama-sama,”
“Kenapa tiba-tiba ngomong gini? Ibumu nggak jawab teleponmu
lagi ya?”
“Nggak ada hubungannya, Liz!”
“Hahaha, aku hanya merasakan kau sedang sedih. Bagaimana
kalau kita cari makan siang? Kau bisa bercerita sepanjang perjalanan.
Dan….tentunya, seperti biasa aku meminta bantuanmu menyebrang jalan,”
“Baiklah,”
Mereka keluar dari rumah sakit, dan berjalan melewati tempat
parkiran kendaraan. Nathan menggandeng tangan Liz, untuk menuntunnya.
“Kadang kupikir, ibuku berbuat begini hanya untuk
mempertahankan kelangsungan hidup kami. Jadi aku bersabar. Tapi ibuku lebih
dari sekedar mencintai pekerjaannya,”
“Kau tahu, kadang kita tidak menyadari apa yang sudah kita
korbankan untuk seuatu yang kita suka. Aku pernah melakukannya. Aku tidak suka
boneka kesayanganku dipinjam. Suatu saat kakakku meminjamnya tanpa izin, dan
aku memukulnya. Aku menyesal. Suatu hari nanti ibumu akan merasakan hal yang
sama, Nathan. Jadi buatlah dia bangga,”
“Liz, aku….,”
“AWAS!!” Liz berteriak dengan suara melengking ketika dia
merasakan sebuah mobil berkecepatan tinggi menuju arahnya. Dengan sigap Liz
mendorong Nathan kea rah pelataran rumah sakit, dan merasakan sisi mobil itu
menghantam punggungnya.
Liz jatuh tidak sadarkan diri, dan Nathan terlempar ke
tangga. Pelipisnya berdarah. Darah… sesuatu yang ditakuti Nathan. Itu berarti
dia harus menghabiskan satu bulan untuk pemulihan. Lagi. Dan tanpa ibunya. Lalu
ekor matanya menangkap Liz dan menyadarkannya ke keadaan semula.
Liz jatuh tertelungkup, dan mukanya sudah berubah pucat.
Matanya membelalak, dan dengan susah payah ia ingin mengatakan sesuatu.
“Liz!” jerit Nathan.
“Nath, darahmu…. Cepat, minta…. tolong,”
“Liz!” Nathan tidak tahu apa yang harus dia lakukan selain
berteriak memanggil nama Liz. Darah yang mengucur dari pelipisnya dan air
matanya menetes membasahi tangan Liz.
“Nath, terima kasih. Untuk….tanganmu.
Tangga….pasir…panggung, kemanapun aku pergi, kau selalu menggandengku…. Dengan
tulus,” ujar Liz terpatah-patah.
“Liz, kau sudah berjanji. Kita akan bertahan hidup
sama-sama,”
“Nath, kalau aku masih punya darah, aku ingin memberikannya
padamu. Dengan cara itu, kalau aku tidak selamat, kita masih bisa bersama-sama
kan? Aku hidup dalam dirimu kan?”
“Liz…. Siapapun, tolong!”
“Nath, buat ibumu bangga,” lalu Liz mengukir senyum di
bibirnya dan menutup mata. Kini dia merasakan kegelapan yang nyaman.
Nathan masih menangis di atas tubuh Liz, dan darahnya masih
menetes-netes. Dalam waktu singkat para petugas medis datang. Liz dinyatakan
sudah tiada. Nathan jatuh pingsan.
Nathan terbangun beberapa jam kemudian dengan kepala
terbalut rapi dan ketat. Kamar rawat inapnya kini menghadap ke pantai. Dan tak
disangka, ibunya sudah berada di sampingnya.
“Ibu?”
“Hiduplah demi Liz, Anakku. Dia telah menyumbangkan darahnya
padamu dan dia lebih pantas disebut ibu untukmu. Ibu… Ibu minta maaf,”
Nathan hanya mengangguk sedikit, lalu menatap ke arah
cakrawala. Matanya berkaca-kaca. Air matanya mengalir, namun segurat senyum
menghiasi wajahnya. Seperti wajah terakhir Liz.
-Nurkhairana
Aryanti Trikurnia-
DO NOT COPY WITHOUT PERMISSION. ORIGINALLY MADE BY NURKHAIRANA ARYANTI TRIKURNIA.
DO NOT COPY WITHOUT PERMISSION. ORIGINALLY MADE BY NURKHAIRANA ARYANTI TRIKURNIA.
Comments
Post a Comment