Second Cerpen~

Ini cerpen kedua gue yang diikutin dalam lomba ;). Ceritanya, kakak gue dapet tugas dari Diknas buat cerpen, nah kakak gue yang punya idenya, tapi gue yang bikin cerpennya. Jadi cerpen ini nggak murni 100% dari gue. Yaudah cus yuk baca  *(*´∀`*)☆



Cinta Dibalik Kabut Pengabdian
Reyna Juniantari menghempaskan tubuhnya di tempat tidur kecil kamar tidurnya. Beasiswa. Universitas. Sarjana muda. Cum laude. Tiga hal yang jauh dari gapaian tangan kecilnya, harapannya. Namun kini, dunianya terasa cerah. Tak ada awan kegelapan yang merundungnya dengan asa-asa palsu. Tepat di genggaman tangannya, formulir untuk menerima beasiswa ke University of Melbourne, Australia, hanya menunggu tangannya untuk meraih pena. Setelah itu, semuanya akan dia genggam. Dunianya, mimpinya.
        Reyna menatap jam dinding di kamarnya. Masih menunjukkan pukul 3 sore. Dua jam lagi ibunya akan datang dari pasar, tempat beliau membuka usaha warung gado-gado kecil-kecilan. Walaupun hatinya bergejolak, dan kakinya ingin berlari menyusul ibunya, Reyna bersabar. Betapa inginnya dia bersujud di kaki ibunya, melihat air mata kebahagiaan ibunya mengalir deras.
        Tepat pukul lima sore lebih seperempat, ibunya pulang dengan membawa kotak besar yang kosong. Hari itu dagangannya laku keras. Wajahnya berseri-seri walaupun sudah keriput dimakan usia. Cobaan hidup yang beruntun tidak memadamkan api untuk melanjutkan kehidupan ini bersama Reyna.
        Perlahan, Reyna menghampiri ibunya. “Ibu… Reyna pulang. Membawa berita gembira,”
        “Apakah itu, Nak?” ibunya meletakkan kotak besarnya, sudah mempersiapkan diri untuk menerima berita apapun.
        “Bu…. Ini,” Reyna menyerahkan formulirnya ke tangan rapuh ibundanya. “Reyna akan belajar di tengah hamparan salju, Bu,”
        Mata ibunya menelusuri setiap garis tegas judul formulir itu dengan tatapan tak percaya. “Apa… ini maksudnya… Reyna dapat beasiswa kesana?”
        “Iya, bu…,” Reyna tak kuasa menahan luapan air matanya. Dan diiringi dengan jatuhnya air mata pertama, Reyna merosot, bersimpuh ke depan kaki ibunya. “Terima kasih, Ibu…,”
        Ibu Reyna tak kuasa mengeluarkan sepatah kata pun. Kakinya ikut merosot, dan tangan-tangan kekarnya memeluk Reyna, anak semata wayangnya dengan lembut. Rangkulannya mengisyaratkan kebanggaan mendalam. Senyum lebarnya terukir diantara kerutan-kerutan dalam.
        “Aku takkan melupakanmu, Ibu, dan demi pusara Ayah, aku akan kembali,”
        Tangis mereka pecah dan dengan tawa-tawa gembira, tangan mereka berdua menari di atas kertas, mengukir jalan hidup Reyna.
~~
        Juni. Tepat pada ulang tahunnya yang ke-18, Reyna menapakkan kakinya di hamparan salju Tullamarine, Bandar Udara Melbourne. Dia menghapus setitik air mata di sudut matanya. Foto ibu dan almarhum ayahnya terasa hangat dibalik saku jaketnya.

        Bersandar di tiang lampu dan menghirup cappuccino-nya, Robert Windsor memandangi gadis berambut hitam panjang bergelombang itu. Pikirannya melayang, teringat akan mantan kekasihnya yang meninggal pada kecelakaan tragis enam bulan yang lalu. Bahkan senyum keduanya mirip. Gadis itu sedang kebingungan untuk mencari taksi. Ketika Robert menangkap lambang Universitas Melbourne di sulaman tasnya, tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri Reyna.
        “Hei,” sapaan Robert tampaknya membuat Reyna terkejut.
        Reyna membalikkan badan dengan cepat dan matanya tertumbuk pada Robert, membuat daun telinganya memerah di hawa sedingin ini. “Eh.. Hei,”
        “Kamu…. Calon murid Universitas Melbourne ya?” tanya Robert sambil menggerling sejenak ke tas Reyna. “Aku melihatmu kebingungan. Perlu bantuan?”
        Reyna menatap ke arah pemuda itu. “Ah, ya, aku calon murid disana. Aku sedang mencari alamat ini, dan aku membutuhkan angkutan umum yang tepat,”
        “Kenapa…,” Robert hendak memberi saran bahwa dia naik taksi saja, atau mencarinya dengan aplikasi smart phone. Tetapi selama sedetik Robert mengevaluasi pikirannya. Tas sampir Reyna sudah terkelupas di beberapa bagian. Kaus kakinya terbuat dari bahan yang tipis dan walaupun tertutup sebagian, Robert masih bisa melihat lubang di betisnya. Bahkan jaket yang dikenakan Reyna, mungkin tidak membantu menghalau hawa dingin Melbourne sama sekali. Layar Samsung Champ-nya yang kecil sudah tergores di banyak tempat. “Ah, lupakan. Aku tahu benar daerah ini. Tetapi aku tidak tahu angkutan umum mana yang tepat. Aku bisa mengantarmu dengan mobilku. Oh ya, aku juga murid Universitas Melbourne. Angkatan tahun lalu,”
        “Ah, tidak usah, terima kasih,” Reyna bimbang. Pemuda yang berdiri di depannya sekarang adalah orang asing. Namun tawaran itu sangat menggiurkan. Lagipula, hawa dingin sudah merambat, menjalar melalui kakinya. Dan sebentar lagi ia akan membeku.
        “Ayolah. Aku tidak bermaksud apapun selain membantumu. Ah… hampir lupa. Namaku Robert Windsor,”
        “Reyna Juniantari,” balas Reyna dengan bahasa Indonesia yang tegas.
        “Reyna…Jyunaiantery..,” Robert berusaha merekam nama itu dalam otaknya. “Namamu bagus,”
        “Terima kasih,” Reyna tersenyum.
        Hati Robert yang beku seakan disiram air panas. Senyum itu… “Ayo, aku akan mengantarmu. Lihat, buku-buku jarimu mulai memutih,” Robert menarik koper Reyna dan membimbingnya menuju mobil.
        Curi-curi pandang, Reyna mengamati wajah Robert. Matanya abu-abu, rambutnya hitam kecoklatan. Hidungnya-tentu saja-mancung, dan bibirnya tipis. Tingginya 10cm lebi tinggi daripada Reyna, dan pembawaannya tenang. Robert menyetir dengan tenang, sesekali membaca ulang alamat itu dengan cermat.
        Reyna bersyukur dia selamat sampai tujuan. Setelah mengucapkan beribu terima kasih pada Robert, Reyna menggeret kopernya menaiki tangga rumah kost sederhana yang akan menjadi rumahnya beberapa tahun mendatang.
        Pagi pertama menghirup atmosfer Universitas Melbourne. Reyna tidak menyia-nyiakan setiap detiknya untuk menyambar berbagai buku yang ada di perpustakaan, dan berusaha tidak terlelap pada mata kuliah yang membosankan.
        Robert baru saja datang ketika ia melihat Reyna duduk di bangku taman, membaca buku setebal lima senti, ditemani segelas kopi susu panas. Robert menggerakkan kakinya untuk menghampiri Reyna, namun diurungkannya niat itu. Lebih baik untuk tidak mengganggu gadis itu.
        Bulan demi bulan, dan tahun demi tahun berlalu. Reyna dan Robert menjaga hubungan mereka dengan percakapan-percakapan singkat, dan beberapa sesi tukar pikiran. Reyna berwawasan luas, dan pembawaannya begitu menakjubkan. Reyna mengetahui banyak hal. Reyna supel, namun tegas dalam pembagian kewajiban belajarnya. Dan itu semakin membuat Robert kagum.
        Robert menjalani masa kuliahnya dengan santai dan tidak terbebani. Namun berkebalikan dengan Reyna. Reyna menyelesaikan kuliahnya dengan cepat, 4 tahun. Cum laude. Tahun kelulusannya sama dengan Robert. Mereka bersukacita menyambut hari wisuda yang sudah di depan mata.
        “Besok malam ada prom night  setelah wisuda kita. Kamu sudah mempersiapkan diri untuk itu?”
        Reyna tersentak. Ia sama sekali tidak memiliki gaun, yang sederhana sekalipun. Dengan sedih Reyna menggeleng. “Tidak. Aku akan pulang begitu selesai wisuda. Besok lusa aku sudah terbang ke Indonesia,”
        Robert memandang tak percaya. “Lusa?”
        “Ya,”
        Robert menangkap kesedihan di mata Reyna, walaupun gadis itu mati-matian menutupinya.
        Reyna menangkap hal yang sama di mata abu-abu Robert. Mata yang tak sanggup ia abaikan. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasakan sebuah perasaan aneh mulai tumbuh.
        Robert bangkit berdiri tak percaya, dan meninggalkan Reyna.
        Dalam kehampaan, Reyna berjalan pulang dengan air mata mengalir di pipinya.
~~
        Reyna menatap ijazahnya, foto-foto wisudanya, dan foto-foto Robert. Sepulang dari wisuda tadi Reyna tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Setelah lima menit yang panjang, Reyna memasukkan semuanya ke dalam koper, dan dengan senyum yang dipaksakan, ia berbisik pelan. “Aku akan pulang, betapapun sakitnya ini,”
        Tiba-tiba getaran telepon genggam Reyna membuyarkan kesedihannya. Satu pesan diterima. Dengan kikuk, Reyna membuka pesan singkat itu. Dari Robert.
        Turunlah ke taman. Aku tidak bisa membiarkanmu melewatkan malam wisuda.
        Secepat kilat Reyna menghapus air matanya dan melongok ke bawah lewat jendela kamarnya. Dan disanalah Robert, melambaikan tangannya. Ia tampak rupawan dibalut setelan jas hitamnya dan rambut tercukur rapi. Sebuah karpet merah lebar terhampar memenuhi taman, dan di tengahnya, sebuah meja makan putih untuk dua orang sudah tersedia.
        “Apa-apaan ini…,” sahut Reyna tak percaya, ketika menghampiri Robert.
        “Kau meninggalkan prom night. Aku disini, itu berarti bukan aku meninggalkannya. Tetapi aku membuatnya untuk kita.”
        “Tidak seharusnya kau melakukan ini,” air mata Reyna mulai turun.
        “Hanya ini hadiah terakhir yang bisa kuberikan untukmu. Pakailah ini,” Robert memberikan sebungkus kotak hadiah. “Pergilah ke kamar mandi dan pakailah ini,”
        Tangan-tangan Reyna membeku ketika menerima itu, tidak yakin harus menjawab apa.
        “Kumohon,” ratap Robert, dan Reyna berbalik.
        Lima menit kemudian, Reyna melangkah keluar dengan gaun ungu anggun, menutup tubuhnya dengan indah. Reyna tersenyum pedih, sebelum menghambur ke arah Robert. Air matanya tidak terbendung lagi.
        “Demi Tuhan, kau cantik sekali, Reyna,”
        “Baru kali ini aku mendengar pujian itu setelah bertahun-tahun. Terima kasih. Untuk ini. Untuk segalanya,” Reyna mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman.
        Robert memberikan tangannya, mengajak Reyna berdansa.
        “Apakah kau serius dengan keputusanmu untuk pulang besok?” tanya Robert.
        “Ya. Aku serius. Maaf aku sudah mengecewakanmu,”
        “Tadinya aku sangat berharap kau akan merubah keputusanmu. Aku…. Menyayangimu,”
        Reyna menghentikan irama mereka. Matanya menatap lurus ke arah Robert. “Aku…,”
        “Aku akan bekerja di perusahaan ayahku. Kau bisa membangun masa depanmu disini, Reyna. Waktu pertama kali melihatmu, aku tahu kau seseorang yang pantas kukagumi,”
        “Kalau itu yang kau minta, aku tidak bisa. Bagiku, ada rasa sayang yang melebihi segalanya,”
        “Apa itu?” tanya Robert penasaran. Segala kesibukan Reyna meyakinkan Robert bahwa Reyna tidak memiliki pacar, dan selama ini Reyna terus mengganti topik saat berbicara mengenainya.
        “Aku sudah berjanji akan kembali. Membangun negeriku,”
        “Aku suka cara belajarmu. Aku suka pendirianmu. Aku suka sosokmu. Setiap detik saat aku bersamamu, aku mengagumimu. Caramu berpendapat, caramu berpendirian. Semuanya. Aku kira tidak ada lagi seorang perempuan di dunia ini yang sepertimu,”
        “Maaf, Robert. Tetapi niatku sudah bulat. Aku juga merasakan hal yang sama. Tetapi, ini cita-citaku. Aku tidak bisa meninggalkan negara yang sudah membiayai pendidikanku. Aku tak bisa meninggalkan semangat juang Nasution, Ahmad Yani, Ade Irma, bahkan pahlawan-pahlawan tak dikenal, semuanya. Aku tidak setega itu untuk melepaskan mereka, membiarkan negaraku menjadi puing-puing buruh yang kalah dalam globalisasi, Rob. Aku tidak bisa,”
        Robert menatap tak percaya. Pendiriannya…
        Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan dingin. Robert berusaha mati-matian untuk menyembunyikan air matanya. Tidak terasa jam berdentang, menunjukkan pukul tengah malam. Sang Pangeran harus pulang sekarang.
        “Aku tidak akan bisa mengantarmu besok pagi ke bandara. Jadi… selamat tinggal,” kali ini dia tidak mau repot-repot menyembunyikan kesedihannya.
        Reyna tidak mengatakan apapun selain memeluk erat Robert sejenak lalu mundur. Hatinya melemah seiring kepergian Robert. Ketika mobil Robert hilang di balik tikungan, Reyna berucap lirih. “Selamat tinggal,”
~~
        Pesawat yang ditumpangi Reyna mendarat dengan sempurna di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Akhirnya, udara Indonesia. Tanah tumpah darahnya, darah ibunya, dan darah seluruh keluarganya. Disinilah ia akan mengabdi, sampai akhir hayatnya.
        Setelah melepas rindu dengan ibunya, Reyna pergi ke museum yang sangat ia rindukan. Museum Sasmitaloka Jenderal A.H. Nasution. Berhubung ia adalah satu-satunya pengunjung, dengan bebas Reyna mengamati setiap ruangan disana, membiarkan hawa perjuangan kembali merasuki jiwanya.
        Namun ketenangannya diusik sebuah suara yang selama ini Reyna kenal. Suara berat itu, suara yang pernah menggoyahkan jiwanya antara cinta dan pengabdian. Suara Robert.
        “Reyna!”
        Reyna menoleh. Dan disanalah dia, dengan setelan yang sama dengan yang dia pakai malam itu.
        “Aku lupa satu hal,” Robert mengatur napasnya dengan melihat ke sekeliling. Pandangannya tertumbuk ke patung Ade Irma Suryani yang berlumuran darah dan A.H. Nasution yang sedang melarikan diri, namun sukmanya hancur melihat putrinya sendiri tertembak. Kurang dari sedetik, Robert memahami darimana semua rasa cinta Reyna berasal.
        Reyna memandang penuh tanda tanya dan ketidakpercayaan.
        “Aku juga menyayangimu karena rasa sayangmu terhadap semua ini, rasa nasionalismemu. Jadi, aku akan menjadi bagian dari rasa sayangmu, bagian dari negara ini.”

 DO NOT COPY WITHOUT PERMISSION. ORIGINALLY MADE BY NISA ADANI DWIKURNIA AND NURKHAIRANA ARYANTI TRIKURNIA.
       

Comments

Popular posts from this blog

Mt. Lorokan 1100 mdpl (masl)

Mt. Puthuk Siwur, 1429 mdpl (masl). Nyebelin!

My Fencing Team's Soldiers