Kala Senja Tak Lagi Terlihat
Aku beringsut turun dari tempat tidur. Jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari lewat lima menit, dan terus berdetik. Kamar ini terasa dingin, sekaligus sepi dan tak bernyawa. Langit-langit yang dulu aku tatap dengan senyuman dan hembusan nafas tenang, kini ia harus menyaksikan tuannya menjadi begitu rapuh. Aku sudah mencoba tidur, namun apa daya, kantuk tak kunjung datang menghampiri.
Pena dan buku harianku yang tergeletak diatas meja menggelitik sukma niatan untuk menulis. Entah kenapa, hari ini terasa begitu melelahkan. Hati dan pikiranku sama-sama dilanda badai yang tak tahu kapan bisa aku redakan. Menulis selalu menjadi obat penghilang sedih dan dukaku, entah sejak kapan. Dengan sisa-sisa tenaga, aku mulai menorehkan tinta demi tinta di atas kertas.
Pertama, untaian senyum dan deraian air mata sunyi memandu paragraf-paragraf awal. Disini aku mulai menulis, berusaha mengikhlaskan seseorang yang begitu berharga pergi dari hidupku, mungkin untuk selamanya. Tak ada kata harapan yang kutorehkan, namun bisikan-bisikan hati yang kini tersedu sedan, membuatku berusaha lebih keras untuk tidak menunjukkanya. Ya, aku berharap, itu pasti. Namun di kala aku tahu sampai kapanpun harapan hanya akan menjadi kelopak-kelopak indah yang berguguran, aku tak sampai hati menuliskannya. Paragraf-paragraf selanjutnya tak bisa kulanjutkan. Bagaikan mencoba meniti awan, bayangan akan hadirnya dirimu selalu menjadi yang pertama hadir di benakku. Terbayangkan, namun mustahil.
Kutinggalkan pena di atas meja. Dengan masih ditemani deraian air mata yang tiada habisnya, aku membuka halaman-halaman awal. Puisi, cerita, bahkan sebuah paragraf lepas yang mungkin bisa menjadi tak berarti, tidak absen dari rangkaian huruf yang membentuk namanya. Hmm, sebuah nama yang bisa dengan sederhananya mengguncangkan hatiku dan meluruhkan pikiran realistisku. Setelah baru saja kehilangan sosoknya, aku baru menyadari bahwa aku telah jatuh terlalu dalam dan terhipnotis terlalu lama oleh pesonanya. Sebuah pesona yang bahkan tidak aku mengerti dari mana asalnya. Tuhan, kapan terakhir kali aku merasa seperti ini? Sejak kapan aku jatuh cinta dengan seseorang yang begitu indah? Bahkan malam itu, aku merasa Tuhan tak membisikkan sepatah pun kata penyemangat untukku. Ia hanya diam di atas sana, mungkin berdecak melecehkan, betapa hamba-Nya lumpuh dalam kemistisan ciptaan-Nya yang paling tak terdefinisikan.
Aku menutup buku harianku dan menaruhnya di bawah bantal. Dengan begitu, mungkin aku akan memimpikannya. Atau bahkan aku bisa memeluknya di alam yang lain. Aku membiarkan sisa-sisa tenaga memulihkan pasukannya, dan melepaskan ruh-ku untuk melintasi mimpi. Malamku kali itu, tidak ada mimpi. Gelap gulita. Dan anehnya.....anehnya aku selalu memanggil dan meminta cahayamu. Cahaya yang selalu kau pancarkan dulu. Tentu, sebelum kau berubah pikiran dan memutus energi itu.
Hari-hari berlalu dan aku menghabiskan sebagian waktuku menatap cakrawala. Embun di pagi hari, angin sejuk di siang hari, ratapan senja di sore hari dan ketenangan sunyi di malam hari selalu membawaku pada ingatan akan dirimu. Sering kutanyakan pada langit: kapan semua ini berakhir? Apakah sesakit ini rasanya mencintai seseorang? Apakah selaknat ini rasanya menyayangi seseorang? Dan bagai kumbang yang tak tahu arah jalan pulang, langitku diam seribu bahasa. Ia mulai menangis melihatku meratap, dan tiap tetesan air matanya membawaku bahkan semakin dalam mengenang dirimu.
Comments
Post a Comment