Posts

"Sebenarnya Aku Mencintaimu Hanya Saja Aku Tidak Mengatakannya"

Berhubung ada yang request, sebut saja Mawar, gue mau posting something berbau galau lagi nih. Judulnya terinspirasi dari cerpen yang keluar di UTS Bahasa Indonesia gue, Sebenarnya Aku Mencintaimu Hanya Saja Aku Tidak Mengatakannya karya Yuni Kristianingsih, 2003.  Lengkap amat sumbernye ye.  Jadi gini. Pernah nggak sih lo sayang sama seseorang, sayangggg banget, tapi lebih memilih untuk ga ngungkapin? Pernah nggak sih lo bersedia bertaruh nyawa (oke ini agak serem) untuk seseorang tapi nggak pernah lo utarain? Pernah nggak sih lo begitu mencintai seseorang dalam diam, karena lo tau confessing the truth won't change anything?  Pasti pernah. Gue juga. First love gue, kalo boleh jujur. Karena yang kedua kayanya sih sempet gue ungkapin. Gatau juga deh. Lupa abisnya gue ga mau terus nginget itu. Gue definitely ga mau nginget momen dimana harga diri gue udah kaya lumpuh. Otak, hati, sakit semua. Walaupun belum ada yang bisa nge-invasi hati gue (asik dong), walaupun belum ada y...

Cintaku Tak Mengenal Rintangan

 Originally made by Nurkhairana Aryanti Trikurnia.             Aku berdiri di depan pagar siang itu, menatap cakrawala senja yang perlahan mengisi langit. Matahari masih terik, namun bayang-bayang sudah mulai memanjang. Aku tak yakin akan apa yang ingin kulakukan selanjutnya. Setelah surat keputusan dari dokter tiba pagi ini, duniaku berubah hampa. Kini, melihat dan merasakan sosok kecil manja berada di pelukanku hanyalah tinggal impian yang takkan pernah bisa terwujud. Aku tidak bisa punya anak dan menderita selusin kelainan lainnya. Masih untung aku tidak menjadi seorang mutan sekalian.             Semua ini berawal dari penelitian yang ku ambil, walaupun aku tahu benar resikonya. Menceritakan detailnya hanya akan membuatku semakin pedih. Berkreasi dengan nuklir memang menjadi cita-citaku sejak awal dan takkan kubuang sedikit pun waktuku untuk tak mempelajarinya. Namu...

Kala Senja Tak Lagi Terlihat

Aku beringsut turun dari tempat tidur. Jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari lewat lima menit, dan terus berdetik. Kamar ini terasa dingin, sekaligus sepi dan tak bernyawa. Langit-langit yang dulu aku tatap dengan senyuman dan hembusan nafas tenang, kini ia harus menyaksikan tuannya menjadi begitu rapuh. Aku sudah mencoba tidur, namun apa daya, kantuk tak kunjung datang menghampiri.  Pena dan buku harianku yang tergeletak diatas meja menggelitik sukma niatan untuk menulis. Entah kenapa, hari ini terasa begitu melelahkan. Hati dan pikiranku sama-sama dilanda badai yang tak tahu kapan bisa aku redakan. Menulis selalu menjadi obat penghilang sedih dan dukaku, entah sejak kapan. Dengan sisa-sisa tenaga, aku mulai menorehkan tinta demi tinta di atas kertas.  Pertama, untaian senyum dan deraian air mata sunyi memandu paragraf-paragraf awal. Disini aku mulai menulis, berusaha mengikhlaskan seseorang yang begitu berharga pergi dari hidupku, mungkin untuk selamanya. Tak ada kata...

That's Why I Love Them

Hi guys. Sorry for the simple 'hi'. Akhir-akhir ini gue ngerasa insecure banget. Nggak bakal ada yang liat post gue di blog ini juga kan. Bukannya gue mau sombong atau mau apa, I used to be first in class, but not anymore. Naik ke kelas sebelas ini, ada anak baru, pindahan dari Jakarta. Kelas gue tetep kompak kok, makin kompak malah. Tapi yah itu, everyday is like battlefield. Dari 14 anak, 7 masuk IPA, 7 masuk IPS. IPA udah kaya battlefield beneran. Temen gue yang emang ambisius dari kelas 10, gatau udah bangun atau nyadar, dia berhasil ngalahin gue waktu UTS kemarin. Dan anak pindahan yang udah gue sebutin diatas, bakal jadi yang pertama untuk kelas sebelas IPA nanti. Gue pindahan ke sini kelas 10. Dulu gue dapet attention dari anak-anak kelas waktu gue nyelesain soal mtk di depan untuk pertama kali. Mereka yah, mulai respect. Abis itu gue jadi sering gabung sama mereka, cerita-cerita. Mereka jadi tau siapa gue, dan gue tau siapa mereka. Gue juga mulai aktif di organisasi...

Athena Edisi Absurd

Pertama-tama dan tanpa bertele-tele, di postingan kali ini gue mau jelasin tentang temen-temen seangkatan gue di SIS, kelas 10 dan mungkin akan bertahan sampe kelas 12 nanti. Berhubung gue lagi pengen nulis dan bosen gara-gara udah mantengin rangkuman Ekonomi selama beberapa jam menit. Yuk cekidot. Gue. Atau Nurkhairana Aryanti Trikurnia. Atau @ranaaryanti. Atau Rana. Atau Kodok. Atau Maximus, seekor kuda putih di film Tangled. Atau Jidat. Tapi nggak ada yang manggil dengan dua sebutan terakhir secara kontinuitas. Untunglah, kalo ada yah siap-siap aja ada bau kaki alias sepatu bersarang di muka Anda. Kadang gue merana, hanya di SIS gue dibilang mirip sama yang bukan manusia. Apalagi Maximus. Udah bukan manusia, nggak hidup pula. Sebagaimana yang lo tau, gue itu absurd, nggak jelas, bikin ilfeel, brutal, dan umm, sedikit jelek. Eh emang jelek. Eh jelek banget malah .-. Seumur hidup gue nggak ada yang pernah bilang gue itu cantik. Kalo manis sih sering, yah terbukti, ...

Paskibra Elimination Week

Ouoooooo! Here comes the most bloody days! Hari ini, besok Rabu, sama besok Kamis eliminasi Paskibra bro. Kalo diliat dari segi niat, gue emang mau ikut Paskibra. Tahun lalu aja gue waktu masih malu-malu dan nggak jadi ikut seleksi Paskibra aja nyesek dan nyeselnya sampe berminggu-minggu. Bukan karena fame, bukan karena supaya keren. Tapi nasionalisme, buddies. Gue bukannya mau dianggap sok nasionalis, tapi gatau kenapa gue emang dari dulu mungkin kalo bisa dibilang 'terlalu cinta' sama Indonesia. Waktu gue di Jepang dulu, gue masih bocah kelas 4 SD yang emosi dan tingkat bikin ilfeelnya lagi parah-parahnya. Gue kan tau ya kalo Jepang itu dulu ngejajah Indonesia, gue awalnya seneng pindah ke Jepang. Yeay, udaranya bersih, enak, nyaman. Tapi dulu gue ngerasa benci banget sama Jepang, soalnya mereka mantan penjajah. Jadi walaupun suasananya 100% lebih enak daripada Indonesia, gue tetep bilang: "Ih enakan di Indonesia." Dan bikin orangtua gue nggak habis pikir. Mereka ...

Bro, Galau ya?

Nggak. Nggak kok gue nggak galau. *iris-iris nadi* Yah mungkin banyak yang beranggapan gitu akhir-akhir ini ke gue. Nggak galau gimana, muka gue selalu keliatan kusut dan terbengkalai akhir-akhir ini | bukannya udah dari dulu ya Ran? | DIEM LU! Gue jujur gue emang banyak pikiran, karena space otak gue memadai untuk memikirkan banyak hal, memimpikan banyak hal, sampe bohong tentang hampir segala hal. Bukan otak deng, tengkorak ye barangkali. Soalnya yang gede tengkoraknya, bukan otak guenya. Jadi hal-hal yang nggak perlu dimasukin ke otak bertebaran dan memantul-mantul dengan bebas di ruang hampa ilmu di dalam tengkorak gue. Lo ngerti nggak sih gue ngomong apaan dari tadi? Yah berhubung gue juga nggak ngerti, markijut (mari kita lanjut) ke topik yang sebenernya pengen gue omongin. Nggak ada hujan, nggak ada petir, bahkan tukang sate padang juga nggak ada, tiba-tiba gue suka sama lagu-lagu Indonesia yang udah jenggotan alias udah lama. Kalo gue rasa sih, makin ...