Posts

Happy Teachers Day, Pahlawan Tanpa Tanda Jasaku

Good afternoon :) Happy Teachers Day, Indonesian! I'm very thankful that I had some amazing teachers who taught me for all educational years I've passed. Mrs. Lilis, Mr. Wasis, Mrs. Suhartini, Mr. Pinondang, and all SIS teacher who teach me, I'm very thankful. I couldn't do anything without your guidance. I could reach everything I have now because of you. I love you, and always will be. Aku berjalan di tengah derasnya hujan Tak mengerti Aku memanjat di tebing yang curam Masih tak mengerti Aku berlari sampai batu-batu menggoreskan luka perih Aku masih tak mengerti Aku bernapas di tengah kegelapan, ketidaktahuan Aku melihat di antara kabut, terbutakan oleh kebodohan Aku memohon, merintih Tapi jiwaku tak pernah tahu  Apa itu dunia Apa itu laut, tanah.. Apa itu samudera Lalu sebersit cahaya datang Membawa sejuta berita, asa, harapan Menitiku melewati seribu rintang Membimbingku meraih keputusan Menaguhkan seribu tongkat dalam setiap langkahku Membelak...

Kegalauan Seekor Anak Kelas Sepuluh

Afternoon, guys. Gue lagi galau berat. Banget. Sangat. Gue udah berkali-kali minta pencerahan dari siapapun, termasuk arwah nenek moyang (?). Pak Devi, Miss Melly, Pak Yayat... semuanya. Dan gue galau abis. Apalagi nilai-nilai gue. Mereka sama sekali nggak membuat gue berani ngambil keputusan ._. walaupun lebih tinggi IPS daripada IPAnya, tapi semua rata-ratanya mulai dari Biologi, Kimia, Fisika, Sejarah, Sosiologi Geografi, Ekonomi.....diatas 90. Dan akhir-akhir ini dunia IPS seakan menawarkan tantangan baru. Kata Miss Melly, diplomat itu bisa ditempuh dari berbagai disiplin ilmu. Gue tertarik sama kedua-duanya. Coba kalo gue masuk IPS. Gue nggak akan semengerti anak-anak IPA kalo bicara tentang kuantum. Tapi kalo gue masuk IPA, gue tau semuanya, seenggaknya dasar-dasar IPA. Gue tau banyak nama-nama ilmiah di biologi, gue bisa menyelami Kimia. Tapi gue nggak akan tau apa itu bursa efek ._. galau kan... Ibu, Bapak, dan Kakak gue IPA. Yakali, mereka kan sukanya gitu. Satunya suka Ma...

Second Cerpen~

Ini cerpen kedua gue yang diikutin dalam lomba ;). Ceritanya, kakak gue dapet tugas dari Diknas buat cerpen, nah kakak gue yang punya idenya, tapi gue yang bikin cerpennya. Jadi cerpen ini nggak murni 100% dari gue. Yaudah cus yuk baca  *(*´∀`*)☆ Cinta Dibalik Kabut Pengabdian Reyna Juniantari menghempaskan tubuhnya di tempat tidur kecil kamar tidurnya. Beasiswa. Universitas. Sarjana muda. Cum laude. Tiga hal yang jauh dari gapaian tangan kecilnya, harapannya. Namun kini, dunianya terasa cerah. Tak ada awan kegelapan yang merundungnya dengan asa-asa palsu. Tepat di genggaman tangannya, formulir untuk menerima beasiswa ke University of Melbourne, Australia, hanya menunggu tangannya untuk meraih pena. Setelah itu, semuanya akan dia genggam. Dunianya, mimpinya.         Reyna menatap jam dinding di kamarnya. Masih menunjukkan pukul 3 sore. Dua jam lagi ibunya akan datang dari pasar, tempat beliau membuka usaha warung gado-gado kecil-kecila...

UTS Paling Nggak Normal yang Pernah Gue Rasain

Perkenalkan (bagi yang belom kenal), gue itu anak kelas sepuluh. *krik* LO NGGAK TAU GIMANA CAPEKNYA ANAK KELAS SEPULUH HAH?! Oke maap, spontaneously mad. Pas awalnya gue bingung kenapa muka anak kelas 11 dan 12 lebih enjoy daripada anak kelas 10. Secara, otak yang gue punya dengan kemampuan berpikir masih kaya bocah putih-biru (karena emang gue waktu itu masih putih-biru) anak kelas 10 kan bisa diibaratkan sama dengan anak kelas 7 yang akhirnya "free" dari UN. Ternyata nggak, bro! 17 mapel menant i! 17! Anak kelas 9, jangan pernah sekalipun kalian merasa sibuk. Rasain lo kelas 10. Gue bagaikan merasa penderitaan bangsa beberapa puluh tahun yang lalu deh (ultah Indonesia ditambah 3 tahun), keluar mulut harimau masuk mulut buaya. Tadinya gue berharap bisa dapet jatah tidur lebih banyak selepas UN, tapi...... *krik* adanya jatah tidur gue malah berkurang. Drastis. Perasaan waktu UN aja gue nggak gini-gini banget -_- Nih ya... Hari Senin, 08-10-2012 mapelnya PAI 4 Bab, Baha...

Puisi gue~

Lubang Tak Berbayang Oleh: Nurkhairana Aryanti Trikurnia Penat membanjiri tubuh-tubuh mereka Tubuh-tubuh tak berdaya Yang berjuang untuk negaranya Hanya rasa cinta yang membuat mereka terus bertahan Demi mimpi Demi harapan.. Menghadapi segala rintang, hadang, halang.. Tubuh ini berusaha mencari jawaban Atas kebenaran yang kini hilang.. Terkubur dalam.. Dan tak beraroma lagi Tubuh ini mencoba mencari tahu Mengapa harus ada rasa cinta untuk negara Negara yang tak lagi berkiblat pada perjuangan Keadilan yang tak lagi berkiblat pada hukum Tuhan Masa depan yang tak lagi mengedepankan nilai dan norma Negara ini.. Yang pernah memenuhi jiwaku dengan api membara Yang membakar tubuhku sampai rongga terdalam Nasionalisme.. Yang pernah kuteriakkan sampai sanubariku bergetar Yang pernah kuagungkan, kuresapi sampai ke kalbu Kini sunyi.. Senyap.. Tak ada gertakan, tak ada gelora, gairah, gebrakan! Pemakan uang rakyat yang tiada habisnya Generasi muda yang tak lagi me...

Cerpen gue~

Berbeda dengan konsep cerita yang gue tulis sebelumnya, inilah wajah cerpen gue sebenernya. Have a nice read! Semburat Senja di Pagi yang Cerah          Nathan membanting ponselnya ke atas matras di ruang rehabilitasi Rumah Sakit Bolton, tempatnya menghabiskan waktu. Sudah berkali-kali ia mencoba menelepon ibunya, namun terus diabaikan. Bocah 12 tahun itu menderita penyakit hemofilia, penyakit darah sukar membeku. Baru-baru ini dia mengalami kecelakaan kecil dan dia harus dirawat intensif untuk mengembalikan kondisinya. Nathan merasa bosan setengah mati.          Masih dengan seragam rumah sakitnya, Nathan berjalan keluar ke titik favoritnya di pantai sebelah rumah sakit. Dari sana dia bisa memandang cakrawala dan bertemu sahabatnya, seorang gadis sebaya, yang selalu datang setiap akhir minggu.          Belum lima menit Nathan berada disana, gadis yang dia ...