Posts

My Future Children's Names Be Like

Bonjour there stalkers. 12:40 am probably isn't the right time to publish such a hopeful feeling towards naming children but it's okay. Try to understand my mood, will you? Okay now I will reveal the truth of my passion of naming my future kiddos. I am an Indonesian, and I hope my future husband will be an Indonesian too so I won't have any of fucking nationality problems in family. Speaking frankly about loving my country so much, yeah, you can tell. I am a nationalist but not that fanatic. Seen from the side of government's, my country has nothing to be adored. Absolutely nothing. We get plenty of problems in the whole part of Indonesia, kind of problems a developing country would have. Currently we summoned a brand new and fresh-from-the-oven president, Your Highness Mr. Joko Widodo and although I didn't participate in his general election, I lay my high hopes of the future Indonesia on his shoulder. So I've nothing much to worry about the government. I will ...

My Abstract Kaleidoscope

Everyone be like: "My 2014 Kaleidoscope" so hell yeah I'll make one. It's 23:55 pm in Singapore. Perfect 5 minutes. Check this bomb out. 1. January: broke up with my "so called-boyfriend" whom I was wondering why I even called him boyfriend since we're not really sailing together on the ship we never really built. Made a surprise for one of my classmate for his sweet seventeen, I got a chance to bring the cake. Neither if these important. But it remains in my memory so yeah just let it slide. 2. February: Chingay 2014, I joined my first 2014 flashmob and it led to many other flashmobs. 3. March: not so much  4. April: I and Widad was sent to Cibubur to spend a whole week together, attending an event of Indonesian Team of Messengers of Peace. I still remember every detail but I'm not about to burst it out. But don't you worry it remains in my heart. Ah. Lots of flashmobs. 5. May: one of our angel's gone. She moved her headquarter to Sydney, an...

"Sebenarnya Aku Mencintaimu Hanya Saja Aku Tidak Mengatakannya"

Berhubung ada yang request, sebut saja Mawar, gue mau posting something berbau galau lagi nih. Judulnya terinspirasi dari cerpen yang keluar di UTS Bahasa Indonesia gue, Sebenarnya Aku Mencintaimu Hanya Saja Aku Tidak Mengatakannya karya Yuni Kristianingsih, 2003.  Lengkap amat sumbernye ye.  Jadi gini. Pernah nggak sih lo sayang sama seseorang, sayangggg banget, tapi lebih memilih untuk ga ngungkapin? Pernah nggak sih lo bersedia bertaruh nyawa (oke ini agak serem) untuk seseorang tapi nggak pernah lo utarain? Pernah nggak sih lo begitu mencintai seseorang dalam diam, karena lo tau confessing the truth won't change anything?  Pasti pernah. Gue juga. First love gue, kalo boleh jujur. Karena yang kedua kayanya sih sempet gue ungkapin. Gatau juga deh. Lupa abisnya gue ga mau terus nginget itu. Gue definitely ga mau nginget momen dimana harga diri gue udah kaya lumpuh. Otak, hati, sakit semua. Walaupun belum ada yang bisa nge-invasi hati gue (asik dong), walaupun belum ada y...

Cintaku Tak Mengenal Rintangan

 Originally made by Nurkhairana Aryanti Trikurnia.             Aku berdiri di depan pagar siang itu, menatap cakrawala senja yang perlahan mengisi langit. Matahari masih terik, namun bayang-bayang sudah mulai memanjang. Aku tak yakin akan apa yang ingin kulakukan selanjutnya. Setelah surat keputusan dari dokter tiba pagi ini, duniaku berubah hampa. Kini, melihat dan merasakan sosok kecil manja berada di pelukanku hanyalah tinggal impian yang takkan pernah bisa terwujud. Aku tidak bisa punya anak dan menderita selusin kelainan lainnya. Masih untung aku tidak menjadi seorang mutan sekalian.             Semua ini berawal dari penelitian yang ku ambil, walaupun aku tahu benar resikonya. Menceritakan detailnya hanya akan membuatku semakin pedih. Berkreasi dengan nuklir memang menjadi cita-citaku sejak awal dan takkan kubuang sedikit pun waktuku untuk tak mempelajarinya. Namu...

Kala Senja Tak Lagi Terlihat

Aku beringsut turun dari tempat tidur. Jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari lewat lima menit, dan terus berdetik. Kamar ini terasa dingin, sekaligus sepi dan tak bernyawa. Langit-langit yang dulu aku tatap dengan senyuman dan hembusan nafas tenang, kini ia harus menyaksikan tuannya menjadi begitu rapuh. Aku sudah mencoba tidur, namun apa daya, kantuk tak kunjung datang menghampiri.  Pena dan buku harianku yang tergeletak diatas meja menggelitik sukma niatan untuk menulis. Entah kenapa, hari ini terasa begitu melelahkan. Hati dan pikiranku sama-sama dilanda badai yang tak tahu kapan bisa aku redakan. Menulis selalu menjadi obat penghilang sedih dan dukaku, entah sejak kapan. Dengan sisa-sisa tenaga, aku mulai menorehkan tinta demi tinta di atas kertas.  Pertama, untaian senyum dan deraian air mata sunyi memandu paragraf-paragraf awal. Disini aku mulai menulis, berusaha mengikhlaskan seseorang yang begitu berharga pergi dari hidupku, mungkin untuk selamanya. Tak ada kata...

That's Why I Love Them

Hi guys. Sorry for the simple 'hi'. Akhir-akhir ini gue ngerasa insecure banget. Nggak bakal ada yang liat post gue di blog ini juga kan. Bukannya gue mau sombong atau mau apa, I used to be first in class, but not anymore. Naik ke kelas sebelas ini, ada anak baru, pindahan dari Jakarta. Kelas gue tetep kompak kok, makin kompak malah. Tapi yah itu, everyday is like battlefield. Dari 14 anak, 7 masuk IPA, 7 masuk IPS. IPA udah kaya battlefield beneran. Temen gue yang emang ambisius dari kelas 10, gatau udah bangun atau nyadar, dia berhasil ngalahin gue waktu UTS kemarin. Dan anak pindahan yang udah gue sebutin diatas, bakal jadi yang pertama untuk kelas sebelas IPA nanti. Gue pindahan ke sini kelas 10. Dulu gue dapet attention dari anak-anak kelas waktu gue nyelesain soal mtk di depan untuk pertama kali. Mereka yah, mulai respect. Abis itu gue jadi sering gabung sama mereka, cerita-cerita. Mereka jadi tau siapa gue, dan gue tau siapa mereka. Gue juga mulai aktif di organisasi...

Athena Edisi Absurd

Pertama-tama dan tanpa bertele-tele, di postingan kali ini gue mau jelasin tentang temen-temen seangkatan gue di SIS, kelas 10 dan mungkin akan bertahan sampe kelas 12 nanti. Berhubung gue lagi pengen nulis dan bosen gara-gara udah mantengin rangkuman Ekonomi selama beberapa jam menit. Yuk cekidot. Gue. Atau Nurkhairana Aryanti Trikurnia. Atau @ranaaryanti. Atau Rana. Atau Kodok. Atau Maximus, seekor kuda putih di film Tangled. Atau Jidat. Tapi nggak ada yang manggil dengan dua sebutan terakhir secara kontinuitas. Untunglah, kalo ada yah siap-siap aja ada bau kaki alias sepatu bersarang di muka Anda. Kadang gue merana, hanya di SIS gue dibilang mirip sama yang bukan manusia. Apalagi Maximus. Udah bukan manusia, nggak hidup pula. Sebagaimana yang lo tau, gue itu absurd, nggak jelas, bikin ilfeel, brutal, dan umm, sedikit jelek. Eh emang jelek. Eh jelek banget malah .-. Seumur hidup gue nggak ada yang pernah bilang gue itu cantik. Kalo manis sih sering, yah terbukti, ...